101 Great Science Experiments

101 Great Science Experiments

IPS Sekolah Menengah Pertama Mengapa mayoritas negara negara ASEAN rawan bencana, jelaskan!​

Mengapa mayoritas negara negara ASEAN rawan bencana, jelaskan!​

Jawaban:

Hal tersebut disebabkan karena secara geografis ASEAN terbentang diantara beberapa lapisan tektonik yang paling sering menimbulkan gempa bumi, letusan gunung berapi dan bahkan tsunami.

berdasarkan letak geografisnya:

ASEAN terletak di antara dua samudra yaitu Hindia dan Pasifik, dan terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia.

berdasarkan letak astronomisnya:

ASEAN terletak pada: 28°LU–11°LS dan 93°BT–141°BT.

Penjelasan:

maaf kalau kurang tepat

Jawaban:

Wilayah Asia Tenggara termasuk ke dalam wilayah yang rawan akan bencana alam sehingga penanggulangan bencana alam sudah seharusnya menjadi prioritas bagi setiap negara yang ada di dalam wilayah tersebut. Asia Tenggara merupakan suatu kawasan yang paling rawan bencana di dunia dan berpotensi terkena hampir semua jenis bencana alam. Hal tersebut disebabkan karena secara geografis Asia Tenggara terbentang diantara beberapa lapisan tektonik yang paling sering menimbulkan gempa bumi, letusan gunung berapi dan bahkan tsunami. Kawasan ini juga terletak diantara dua samudera, yaitu samudera Hindia dan Pasifik yang dapat menyebabkan munculnya angin topan (Zakiah, 2016).

Salah satu bencana alam yang menelan banyak korban jiwa yaitu Tsunami Aceh yang terjadi pada Desember 2004 yang disebabkan aktivitas seismik di Samudera Hindia. Bencana ini menyebabkan hilangnya lebih dari 200.000 jiwa. Selain itu juga terdapat bencana alam badai topan yang terjadi di Myanmar pada tahun 2008 dimana menyebabkan hilangnya nyawa 130.000 jiwa (

Dengan adanya keadaan tersebut, ASEAN sebagai lembaga kerjasama antar negara-negara di Asia Tenggara perlu melakukan kerjasama agar risiko yang ditimbulkan dapat ditekan serendah mungkin. Komunitas ASEAN sebenarnya sudah memiliki perangkat untuk mengukuhkan kerjasama dan kebersamaannya dalam menangani bencana alam, tinggal efektivitas dari penerapannya di lapangan. Melalui ASEAN Ministerial Meeting on Disaster Management (AMMDM), pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) dengan ASEAN Committee on Disaster Management (ACDM) sebagai pusat koordinasi. AADMER merupakan kerangka regional yang bersifat proaktif untuk kerjasama, koordinasi, bantuan teknis, dan mobilisasi sumber daya dalam semua aspek manajemen kebencanaan.

Komunitas ASEAN juga memfokuskan kebijakan disaster management melalui ASEAN Regional Forum (ARF) dan ASEAN Defense Ministerial Meeting Plus (ADMM Plus), dimana anggota dari organisasi tersebut melibatkan negara mitra wicara ASEAN. Fokus dari lembaga-lembaga tersebut adalah untuk kerjasama bantuan terhadap kemanusiaan dan pertolongan bencana sebagai bagian dari disaster management kawasan Asia Tenggara. (Syaban, 2014).

Badan mitigasi bencana ASEAN ini didanai oleh iuran wajib ke-10 negara anggota sehingga siapa pun yang memerlukan bantuan dapat meminta AHA Centre untuk turun tangan. Bantuan kemanusiaan sendiri disimpan di gudang di Malaysia (BBC, 2017). Berbagai macam barang yang disimpan, seperti tenda, generator, perahu kecil, kemah keluarga, peralatan untuk keluarga, bahkan alat penjernih air juga masuk dalam daftar barang yang diberikan ke kemah-kemah pengungsian warga yang terkena bencana. AHA Centre juga mengirimkan Emergency Response and Assesment Team (ERAT) yang merupaka tim koordinasi cepat. Tim ini nantinya akan membantu mengatasi bencana dan juga memberikan kajian analisa, assesment maupun koordinasi (Ariesta, 2018).

Peran Indonesia

Indonesia sendiri turut berperan serius dalam penanggulangan bencana di ASEAN lewat beberapa langkah diluar AHA Centre. Pada tahun 2008 Indonesia membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam perannya, BNPB merupakan komponen organisasi yang bekerja sama dengan AHA Centre, namun dalam pembentukannya sudah lebih dulu didirikan di Indonesia sehingga dapat dikatakan Indonesia lebih maju selangkah dalam penanganan bencana secara serius tanpa menunggu ‘pemantik’ dari organisasi regional. Menurut Wibowo (2014), Keseriusan pemerintah Indonesia dalam penanggulangan bencana juga ditunjukkan dalam anggaran. Pada tahun 2008 anggaran nasional dalam penanggulangan bencana sebesar Rp. 147.652.346.000. Pada tahun 2001 anggaran melonjak mencapai Rp. 5.206.880.402.000.

ASEAN Regional Program on Disaster Management (ARPDM) yang merupakan kerangka kerjasama penanggulangan bencana di ASEAN juga tak dapat dilepaskan dari peran strategis Indonesia. Program tersebut merupakan tindaklanjut ASEAN Agreement on Disaster Management and Emergency Response (AADMER) yang ditandatangani pada 26 Juli 2007 (Wibowo, 2014). Peran aktif Indonesia ini bahkan sebelum terbentuknya AHA Centre sebagai organisasi utama yang memfasilitasi koordinasi manajemen bencana di ASEAN. Indonesia juga menjadi salah satu ketua (co-chair) dalam APEC Task Force on Emergency Preparedness (TFEP) untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam yang juga mempengaruhi kerangka kerjasama ASEAN dalam penanggulangan bencana.

brainli sonia aulia 956 wim ndg jangan lupa like maaf soal nya banyak kemaren udah aku salin takut ada yang nanya ya

[answer.2.content]